Tio, 23 desember 2008
Menulis itu gampang
Banyak yang membahas tentang ini, buku, artikel Koran, acara TV dan seminar-seminar. Bahasannya menarik dan “mudah” dicerna. Tapi yang saya kurang setuju; motivasi yang mereka sampaikan ujung-ujungnya selalu dikaitkan dengan uang, contohnya: hasil tulisan dikirimkan ke media lalu akan mendapatkan sejumlah uang sebagai kompensasinya, atau menerbitkan buku dan bila buku itu meledak, bayangkan dengan penghasilan yang akan didapat.
Segala yang terjadi didunia ini koq sepertinya selalu dikaitkan dengan uang sih (…..). memang tidak mudah memotivasi orang lain, tapi cara yang mungkin sekarang dianggap paling efektif adalah dengan menjanjikan uang sebagai alasan dasarnya.
Setiap hasil karya manusia itu idealnya merupakan karya besar yang tidak bisa dinilai dan dibanding-bandingkan dengan uang.
Seni bagi saya adalah sebuah kegiatan yang dilakukan sebagai wujud respon makhluk yang berinteraksi dengan alam sekitarnya, suatu tindakan idealis dan merupakan bahasa untuk kalangan tertentu sebagai media komunikasi untuk menyampaikan yang ingin disampaikan oleh setiap pribadi hidup.
Dan bila kemudian ada beberapa orang yang mengaitkan seni dengan uang, bisa dibilang orang-orang tersebut bukan seniman, tapi pekerja seni. Yang artinya seni digunakan sebagai media untuk mendapatkan penghasilan darinya. (tapi saya tidak mengatakan pekerja seni itu salah lho)
Memang perlu ada proses untuk mencapai sesuatu, dan selama proses yang dikerjakan itu positif bebas-bebas saja untuk setiap individu melakukan apapun.
Koq jadi melebar gini ya ceritanya, sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu seperti judul di atas, tapi ga apa-apa lah ya, hm hm…
Yang akan saya sampaikan berikut ini adalah sebuah ajakan untuk mereka yang sanggup dan mau mengubah paradigma yang selama ini membuat kita terjebak materi dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah Allah di alam ini. Mari kita berkhayal dan mulai-untuk sesaat-membayangkan bahwa kita adalah seorang manusia yang baru dilahirkan di dunia ini, dibekali akal pikiran dan sepaket media untuk menceritakan yang telah, sedang, dan akan kita alami.
Sebenarnya bukan semuanya dari hasil mikir sendiri sih tapi dari setiap media yang saya baca, dengar, dan lihat (jujur banget sih, biarin, orang jujur mulai berkurang!) tapi ini bukan nyontek lho ya, nyontek mah plagiat ateuh. Karena tugas manusia sebenernya bukan mencipta, tapi hanya untuk beribadah kepada Allah, dan mengingatkan merupakan salah satu ibadah yang harus dijalankan.
Let me start;
Kebebasan menulis
Kita mulai dari teori lalu prakteknya. Begini, banyak media yang menyampaikan bagaimana menulis yang baik dan benar. Ketentuan-ketentuan seperti gramatikal, majas-majas, idiom dan apalah itu namanya (haha, sori nih) sedikit banyak mempengaruhi (baca= menakut-nakuti) para calon penulis (termasuk saya :)).
Saya ingatkan satu hal; kehidupan masa kecil kita (umumnya lho ya) seperti tidak terbebani oleh apapun. Kita bermain sepuasnya, ketawa seenaknya, menangis sejadinya, dan hal-hal lain yang kita tidak perlu mikirin orang lain mau bicara atau berprasangka apapun terhadap kita. Beranjak remaja, kemudian dewasa, mulailah petualangan terjadi, dan terbentuklah setiap pribadi yang masing-masing memiliki paradigma sendiri.
Otak kita terdiri dari Otak kanan dan otak kiri. Otak kanan adalah sumber informasi dan Otak kiri adalah hakim yang bertugas mensortingnya.
Setiap pribadi manusia mempunyai kualitas otak yang berbeda. Otak kiri seorang optimis -menurut saya- akan lebih “memihak” kepada otak kanan, tapi seorang pesimis akan lebih banyak bekerja dalam membantah kinerja otak kanan. Rasa takut salah, malu, gagal, dan tidak percaya diri akan semakin membuat otak kiri menjadi skeptic terhadap otak kanan dan akibatnya (bila dihubungkan dengan proses menulis) akan membuat ide-ide yang muncul dari otak kanan tersebut tidak jadi dikeluarkan dan hasilnya karya yang akan dibuat tidak akan selesai-selesai.
Akal pikiran kita menangkap menampung dan mengelola setiap informasi yang sampai, dari situ dimulailah proses-boleh tdk saya menyebutnya-evolusi (tolong jangan kaitkan dengan teori Darwin). Lingkungan tempat yang kita singgahi, pengalaman verbal, visual, dan spiritual yang kita alami sejatinya adalah jatah atau bagian yang telah, sedang dan akan kita terima, dan bagi mereka yang menyikapinya secara skeptic hal-hal negative yang dialami akan mereka anggap sebagai sebuah masalah yang bikin pusing.
Semua memori yang terekam dan tersimpan tidak semuanya bisa terkelola dengan baik, semua informasi yang masuk tersebut bisa jadi akan membentuk seperti bola salju yang akan terus membesar dan akhirnya tidak akan tertampung oleh space yang tersedia di dalam tubuh kita (baca: otak) bila kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Untuk itu sepertinya sudah sewajarnya kita sampaikan, sorting dan kita cerna. Seperti halnya proses pencernaan, semua makanan yang masuk ke dalam tubuh kita akan dicerna dan diolah. Yang diperlukan akan dikonsumsi dan bagian yang tidak diperlukan akan dikeluarkan oleh tubuh. (koq jadi ngelantur gini? Ga papa lah ya, karena sekarang saya sedang menulis dengan otak kanan saya).
Sekarang saya sedang berandai-andai, boleh tidak ya kita samakan akal pikiran tersebut dengan otak kanan dan otak kiri
· Akal = Otak kanan
· Pikiran = Otak kiri
Akal, ide, data, informasi, dan kebebasan adalah isi otak kanan kita. Otak kiri sebagai editor dan berpikir untuk menyeleksi setiap segala hal yang dikeluarkan otak kanan, kemudian direalisasikan dalam bentuk verbal dan visual yang kemudian dikomunikasikan manusia sebagai fungsinya sebagai makhluk social.
Yang dibutuhkan untuk bisa menulis adalah tiga syarat, yaitu:
Yang pertama TULIS
Kedua TULIS,
Dan yang ketiga TULIS terus ! ga usah banyak mikir benar salah
Perlu penjelasan :) ??
Well, seperti halnya menggambar atau melukis, menulis juga memerlukan keberanian. Keberanian dalam arti jujur pada diri sendiri, berani menuliskan apapun tanpa ada rasa takut salah, tidak sesuai aturan atau prosedur penulisan.
Tuliskan setiap hal yang lewat di kepala anda (itu isi otak kanan anda) apapun itu, berhubungan atau bahkan yang tidak berhubungan sama sekali.
Berikut contoh proses menulis pake otak kanan:
Mengapa kita terkena imbas krisis nya amerika, krisis global (apa tuh global?)
Global= keseluruhan dari sesuatu yang sedang terjadi
Karena amerika memegang peranan penting di perekonomian dunia, karena amerika mendunia
Barrack obama, bush, Hilary, Gus Dur (lho?)
Bursa saham perusahaan
Inflasi ekonomi, wah perlu baca buku ekonomi makro nih
Amerika hobinya perang, tapi kayanya beda presiden, skrg presiden baru, obama
Aduh, pengen pipis euy. Nanti sore mau kemana ya (lho lagi, ga papa, tulis aja)
Emang orang Indonesia belum mandiri ya, sampe kena imbasnya, perlu baca Koran lagi
Banyak perusahaan gulung tikar dikarenakan, eh salah, dengan alasan efisiensi produktifitas karyawan
Hahaha, aneh ya?
Setelah selesai kita tuliskan semuanya, baru kita lihat lagi dari pertama, mulai proses pengeditan. mau ditambahin, dikurangi, atau divariasikan, atur-atur aja, yang penting mudah dicerna dan enak dibaca (setidaknya enak menurut kita sendiri, :))
masih bingung?
Begini analoginya. Kita menyimpan beberapa koin emas di sebuah celengan yang berisikan sebagian besarnya adalah uang koin biasa.
Pertanyaannya; bagaimana mengeluarkan emas itu dari celengan tersebut?
- Dibalikan terus digoyang-goyang sambil menunggu setiap koin yang keluar
- Pake alat penjepit untuk mencari koin emas tersebut
- Atau, keluarkan semua isinya di meja lalu tinggal kita ambil koin-koin emasnya
Menurut Anda, cara mana yang paling mudah? Poin yang ketiga sepertinya tips yang paling cepat dan efektif.
Proses menulis memerlukan daya ingat, pemahaman, dan wawasan yang tinggi juga jangan lupa-ini yang paling penting-menulis perlu kebiasaan. Makanya perlu trik, karena tidak semua dari kita mempunyai daya ingat dan wawasan yang luar biasa. Dari keterbatasan tersebut, yang saya ceritakan sekarang adalah salah satu cara yang paling saya senangi dalam proses membuat tulisan.
See, it's easy kan?
Untuk mengingatkan, waktu terus berjalan dan alam selalu menunggu setiap karya yang bisa kita hasillkan. Jadi kenapa tidak kita mulai dari sesuatu yang kita senangi.
Dengan catatan; setiap interpretasi orang lain tentu berbeda dengan cara pandang kita. Sebagai makhluk social-anda mungkin lebih paham dari pada saya-mempunyai hak, dan hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Maksud saya sebelum hasil tulisan anda itu dipublikasikan, ada baiknya anda memahami isinya, dan sanggup bertanggung jawab atasnya. Kecuali tulisan tersebut hanya untuk konsumsi sendiri :) bebas.
Dicukupkan dulu nih, pegel, ntar nyambung lagi
jangan lupa kasih comment ya, ditunggu lho.. :)
trims
Selamat Hari Bumi
16 years ago



kalo boleh ngasih sedkit masukan.
ReplyDeletebiar bisa menulis bukan cuma dibutuhkan kemauan untuk terus nulis aja. tapi juga adanya kemauan untuk menisihkan waktu membaca hasil karya orang lain. tujuannya selain untuk memperbandingkan dan meningkatkan mutu tulisan kita, juga bisa menambah wawasan untuk memperkaya tulisan2 kita selanjutnya.
(^_^)v